Showing posts with label CurCol. Show all posts
Showing posts with label CurCol. Show all posts

Monday, April 21, 2014

Saya Malas Membanggakan RA. Kartini




Hari ini tanggal 21 April ya ? Waduh, saking banyaknya kerjaan kantor, saya sampai lupa kalau hari ini merupakan tanggal yang katanya "bersejarah" bagi emansipasi wanita dengan tokoh yang di blow up yang bernama RA. Kartini.

Hehehe, kok saya bilang RA. Kartini di blow up ya ? Emang kok pesimis banget ya saya sama RA. Kartini?

Nah, be patient mennn. Saya jelasin dulu di artikel ini ya :)

Setelah saya blog walking untuk mencari tahu informasi tentang sosok RA. Kartini yang sebenarnya, saya menemukan beberapa blog yang memang skeptis terhadap sosok beliau ini. Nih saya nukil dari sumbernya (dari sini sumbernya) supaya  pola pikir kita jangan mau disetir oleh siapapun (termasuk yang nulis blog ini, hehehehe).

Cekidot

"21 April bagi kaum hawa di negeri ini tentu saja merupakan hari yang istimewa. Karena pada tanggal tersebutlah salah seorang putri “kebanggan” Indonesia dilahirkan di bumi Jepara, Jawa Tengah. Raden Ajeng Kartini (1879-1904) namanya. Sebagai salah satu anak manusia yang pernah mengenyam bangku sekolah di negeri ini tentunya saya juga menaruh rasa hormat yang dalam kepada sosok wanita yang oleh masyarakat kadung dianggap sebagai figure teladan perempuan pejuang dan tokoh emansipasi wanita ini. Hal itu memang sudah terdoktrinkan secara sistematis ke dalam otak saya dan juga kepada jutaan alumni sekolah di republik tercinta ini bahwa memang demikianlah sosok harum Kartini. Namun setelah Liang Pikir saya (baca: Otak) perlahan beranjak dewasa, kini saya mulai sadar bahwa Kartini ternyata tak se-sakral itu. Dan kini saya juga tertarik tuk meng-kritisi sosok Putri Kebanggan Indonesia ini, secara Objektif tentunya.


Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada sang “Putri Yang Mulia” (Sebutan beliau dalam salah satu lirik lagu nasional Ibu Kita Kartini), izinkanlah saya mengungkapkan beberapa kegundahan yang mengganjal di benak saya tentang Raden Ajeng Kartini ini.

Pertama-tama bolehlah saya cuplikkan beberapa lirik dalam Lagu Ibu Kita Kartini yang juga bisa menjadi renungan kita bersama. Berikut beberapa petikan lirik lagu “Sakral” tersebut yang masih saya ingat :

Ibu Kita Kartini//

Putri sejati//

Putri Indonesia//

Harum namanya//

Wahai ibu kita Kartini//

Putri yang mulia//

Sungguh besar cita-citanya//

Bagi Indonesia//

Dalam lirik lagu tersebut nampak jelas begitu terpujinya Kartini ini. Terbukti dengan diproklamirkannya penyebutan putri yang mulia pada beliau. Dan ada lagi satu bait dalam lirik lagu tersbut yang juga dapat kita kritisi bersama, yaitu pada kata”Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia.”

Sebenarnya apakah gerangan cita-cita besar Kartini yang oleh banyak orang disebut sebagai cita-cita yang mulia itu. Jawabannya konon adalah perjuangan mengenai emansipasi dan kesetaraan Gender. Untuk membahas masalah ini (Emansipasi dan Kesetaraan Gender) sungguh membutuhkan waktu yang tidak sedikit dan tentunya akan selalu menimbulkan Pro dan Kontra setelahnya. Maka dalam seduhan (tulisan) ini saya mencoba mengambil sisi lain yang juga layak tuk dicermati. Yaitu mengenai kelayakan Kartini menyandang gelar Tokoh Emansipasi sehingga dijadikan Inspirator dan simbol sakral para wanita di negeri ini hingga hari ini.


Kisah “Mini” Kartini

Nama Kartini sebenarnya baru meledak sedemikian tenar pasca diterbitkannya kumpulan surat-menyuratnya (Korespondensi) dengan para Nonik Belanda. Kumpulan surat yang diberi judul ”Door Duisternis tot Licht” (Habis Gelap Terbitlah Terang) itu sendiri diterbitkan 14 tahun setelah kematiannya. Dan inilah yang patut digaris bawahi, penerbitnya adalah Belanda sang penjajah negeri ini. Menjadi menarik jika kita cermati apakah gerangan maksud Belanda di balik semua itu. Mengapa kita patut curiga dengan maksud negeri yang tlah mengeruk kekayaan perut Indonesia selama 3,5 Abad ini. Karena tidak mungkin negara yang tabiatnya adalah penjajah melakukannya dengan tanpa tujuan yang besar di baliknya. Belanda boleh saja tak menjajah Indonesia lagi secara fisik namun haram bagi mereka jika melepaskan Indonesia secara cuma-cuma karena negara inilah (baca: Indonesia) yang telah menghidupi negeri Kincir Angin tersebut selama 350 Tahun. 

Pengkultusan Kartini adalah salah satu buah manis yang dihasilkan dari penanaman benih sejarah oleh Belanda melalui diterbitkannya buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Melalui buku itu Belanda ingin mendoktrin otak-otak generasi Indonesia selanjutnya (utamanya wanitanya) agar mempelajari sosok Kartini dan meniru serta melanjutkan ide-ide Kartini yang tentunya telah dipoles sedemikian rupa oleh Belanda. Jika kita berfikir lebih jernih, mengapa hanya Kartini saja tokoh wanita yang di Blow-Up sebegitu besarnya dalam sejarah yang dikonstruksi oleh Belanda? 

Bukankah di negeri ini dahulu juga banyak tokoh wanita yang juga tak kalah dengan Kartini dan bahkan lebih hebat dan besar jasanya bagi bangsa ini daripada Kartini. Jika Kartini hanya berkutat pada ide-ide dan diskusi dengan para Tokoh Belanda melalui surat-menyurat, maka masih lebih hebat Dewi Sartika (1884-1947) yang tidak hanya sekedar berwacana tentang pendidikan kaum wanita, namun juga mendirikan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Kemudian ada lagi Rohana Kudus yang menyebarkan ide-idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan). Apalagi dengan Cut Nyak Dhien yang merupakan sosok wanita pejuang yang sangat tangguh hingga membuat Belanda sangat merasa terancam dengan pengaruh wanita yang satu ini di tengah-tengah masyarakat Aceh kala itu. Beliau berjuang bahkan dengan mengangkat senjata bahu-membahu hingga akhir nafasnya bersama sang suami, Teuku Umar. 

Nah, bandingkan dengan Kartini. Sungguh mereka lebih hebat daripada Kartini yang masih berkutat pada wilayah ide-ide dan cita-cita saja. Contohnya adalah Rohana Kudus yang sangat kenyang dalam merasakan tekanan pihak penjajah Belanda. Terbukti dengan sering dibredelnya media massa yang dipimpinnya oleh Belanda kala itu. Cut Nyak Dhien, jangan tanya lagi, meski seorang perempuan namun Belanda menganggapnya sama berbahayanya dengan para pejuang laki-laki. Jiwa, harta dan segala miliknya adalah sesuatu yang sungguh sangat ingin dimatikan oleh Belanda. Lantas mengapa hanya Kartini yang dielu-elukan hari ini.

Awas Proyek Terselubung Kartinisasi 

Mengapa hanya Kartini sosok wanita yang hingga kini dikultuskan sebagai Tokoh Inspirator bagi para kaum hawa di negeri ini. Hal ini nampaknya tak lain adalah merupakan sisa-sisa proyek Belanda yang ingin meracuni otak anak-anak Indonesia melalui pembelokkan sejarah yang dibentuknya. Ingat, Kartini mulai melejit namanya pasca diterbitkannya kumpulan surat-menyuratnya oleh Belanda. Kartini lebih disukai Belanda karena tidak membahayakan kepentingan Belanda. Karena tidak ada gerakan nyata darinya yang memberi pengaruh luas pada masyarakatnya kala itu. Kartini adalah anak priyayi alias dari kalangan ningrat yang pergaulannya sangat terbatas, hingga tak mungkin baginya bergaul dengan rakyat jelata, karena kala itu masih berlaku sistem Kasta Sosial. Maka wajar saja jika Harsja W. Bahtiar dalam artikel berjudul “Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita” yang terangkum dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979), (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990, cetakan ke-4) melakukan gugatan terhadap penokohan Kartini. Harsja W. Bahtiar menilai bahwa selama ini kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia sebenarnya lebih kepada konstruk (bentukan) orang-orang Belanda.

Jika tokoh-tokoh Muslimah seperti Dewi Sartika, Rohana Kudus, Cut Nyak Dhien dan masih banyak tokoh wanita hebat lain tidak diangkat sejarahnya seperti yang dilakukan Belanda kepada Kartini maka itu sangat beralasan. Karena Belanda memiliki beberapa alasan penting, diantaranya adalah :

Cut Nyak Dhien, Rohana Kudus,  dan Dewi Sartika selain merupakan para sosok wanita yang sumbangsih nyata-nya sangat besar bagi masyarakat dan bangsa, mereka juga adalah figur Muslimah yang taat dan Belanda sangat takut akan hal itu. Karena menurut pendapat Snouck Hurgonje (Orientalis kesohor) yang merupakan tokoh yang pendapatnya sangat mempengaruhi Belanda dalam mengambil tiap kebijakan bagi daerah jajahannya pernah mengatakan bahwa golongan yang paling keras terhadap Belanda adalah Islam. Nah jika para wanita Islam dan generasi penerusnya mewarisi semangat dan karya para tokoh muslimah seperti Cut Nyak Dhien, Dewi Sartika dan Rohana Kudus maka dapat dipastikan Belanda tidak akan bisa bertahan lama tuk terus mencengkram Indonesia. Apalagi jika wanita Muslimah itu berpendidikan dan memiliki semangat belajar dan mengamalkan ilmunya seperti Dewi Sartika dan Rohana Kudus yang berjuang melalui jalur pendidikan bagi masyarakat, tentunya akan membuat Belanda semakin sulit menggenggam Indonesia lebih lama lagi. Hal ini berbeda dengan Kartini yang paham ke-Islamannya kala itu masih rendah dan cenderung berpaham Pluralisme alias menyamaratakan semua agama yang tentunya daya militansi “Pemberontakannya” tidak keras dan cenderung jinak. Ingat, Kartini baru tertarik mendalami Islam lebih dalam hanya sebentar saja di saat akhir hidupnya dimana kala itu beliau banyak mengaji kepada Kyai Sholeh Darat dari Semarang. Berikut salah satu isi suratnya yang nampak jelas menggambarkan bahwa agama dalam benaknya tak lain hanya sekedar hal sepele belaka,”Kami bernama orang Islam karena kami keturunan orang-orang Islam, dan kami adalah orang-orang Islam hanya pada sebutan belaka, tidak lebih. Tuhan, Allah, bagi kami adalah seruan, adalah seruan,adalah bunyi tanpa makna.” (Surat Kartini Kepada E.C Abendanon, 15 Agustus 1902)

Cut Nyak Dhien, Dewi Sartika dan Rohana Kudus sangat anti penjajah Belanda dan sangat gigih melawan mereka dalam bidang masing-masing. Berbeda dengan Kartini yang pergaulannya agak eksklusive   yaitu dengan para tokoh Belanda meski lewat korespondensi (surat-menyurat). Selain itu Kartini juga nampaknya amat kagum dengan negeri Belanda sang penjajah negaranya. Terbukti dengan cita-citanya yang sangat ingin belajar ke Belanda. Seperti yang tertuang dalam suratnya yang berbunyi,“Aku mau meneruskan pendidikan ke Holland (Belanda), karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah aku pilih” (kepada Ny. Ovinksoer, 1900).

Bandingkan dengan Cut Nyak Dhien yang tak mau berkompromi dan sangat membenci Belanda. Sungguh inilah nampaknya juga yang menjadi salah satu alasan mengapa Kartini sangat di-anak emas-kan oleh Belanda sehingga sejarah mengenai dirinya begitu agung, meski sesungguhnya dia tak layak untuk itu. Maka dari sini kita dapat menarik sebuah benang merah mengapa kini hanya Kartini yang sejarahnya begitu gencar dipublikasikan dan bahkan hari kelahiranya sering diperingati secara meriah mulai dari pemakaian Kebaya oleh para wanita negeri ini di hari tersebut hingga kegiatan-kegiatan seremonial lainnya. Padahal jika boleh dikata tokoh ini masih dalam tahap bercita-cita serta bermimpi dan belum bergerak secara nyata dan sumbangsihnya bagi masyarakatnya kala itu juga tidak terlalu mencolok. Lantas mengapa justru Kartini yang diagung-agungkan sebagai Putri Indonesia yang mulia dan membanggakan? Ah nampaknya kita memang lebih senang kepada tokoh yang koar-koarnya dan ucapannya indah meski tindakannya belum nyata ada (No Action Talk Only). Sama seperti kasus penganugerahan Nobel Perdamaian bagi Obama yang banyak dikritik oleh banyak masyarakat dunia karena sebenarnya dia tidak layak untuk itu sebab Obama –menurut mereka- hanya pandai berpidato namun Actionnya jauh dari apa yang diharapkan.

So, jika hingga hari ini Kartini masih dikultuskan sedemikian rupa, itu adalah hasil rekayasa manis pihak-pihak tertentu yang ingin terus membelokkan sejarah bangsa ini yang Shahih dan asli. Belanda dan pihak-pihak yang berkepentingan mencengkeram Indonesia ingin agar generasi baru Indonesia, terutama wanitanya,supaya menjadi seperti Kartini yang jinak pada Barat, dan paham keagamaannya Pluralis alias tidak fanatik dan taat pada agamanya. Mengapa demikian? Karena Islam adalah musuh yang sangat ditakuti Barat/penjajah (seperti kata Snouck Hurgonje). Dan jika semua itu berjalan sesuai Proyek mereka, maka bangsa Indonesia ini akan tetap mudah mereka kontrol.

Jadi kesimpulan yang dapat kita tarik dari pembahasan ini adalah, ternyata jikalau kita dapat berpikir secara akal sehat  maka kita akan dengan sangat yakin tuk mengatakan bahwa masih lebih layak Cut Nyak Dhien, Dewi Sartika, Rohana Kudus dan tokoh-tokoh wanita pejuang lainnya yang Actionnya bagi bangsa ini telah terbukti nyata ada dan bukan hanya sekedar cita-cita/mimpi/dan Talk Only belaka yang dapat dianggap sebagai wanita pejuang dan Inspirator sejati bagi wanita. Karena kita sebenarnya lebih butuh action nyata dari seorang manusia yang ditokohkan dan bukan hanya sekedar omongan belaka. Jika hanya karena memiliki cita-cita yang besar bagi Indonesia Kartini tlah dicap sebagai Putri Indonesia yang sejati nan mulia (seperti dalam lirik lagu di atas), lantas apa gelar yang layak disematkan kepada tokoh-tokoh wanita pejuang yang tidak hanya bercita-cita namun telah berkarya dan bergerak nyata bagi bangsa ini??? toh kalau hanya bercita-cita saja seperti Kartini, maka saya, anda dan semua rakyat negeri ini juga bisa, kan?
 
Sekarang terserah anda bagaimana menilai Kartini. Apakah memang masih sebegitu agungkah Kartini yang cuma bisa galau lewat surat - surat korespondensi?

Talk Less Do More, Don't Talk More Do Less …??? "

Fiuuuhhh, kira-kira begitulah memaknai tanggal 21 April sebagai hari Kartini. 

Silahkan cek di google dengan kata kunci : Kartini Bukan Pahlawan

Atau silahkan baca lagi disini : 


dan sumber lainnya. Googling aja deh ya biar pinter :)

Lebih paten mamak dirumah saya (dan mamak Anda juga) yang jauh lebih banyak pengorbanannya ketimbang si Kartini toh ? hehehehehehe

Salam paten untuk Indonesia.

Read More

Sunday, January 27, 2013

Narkoba Raffi Ahmad Dan Marketing

Dunia marketing memang sangat dekat dengan pekerjaan memahami kebutuhan pasien, ups, pasar maksud saya. 



Hari ini atensi saya lagi-lagi terusik dengan penggerebekan rumah artis kenamaan Raffi Ahmad atas sangkaan pesta narkoba dengan beberapa artis yang juga ikut dalam pesta tersebut dari berbagai media massa yang saya peroleh. Saya sempat berpikir, apakah masih kurang dengan materi yang sudah dengan susah payah mereka peroleh, harus ditambah lagi dengan barang yang namanya narkoba untuk memuaskan "want" yang selama ini kurang terpenuhi ? 

Saya tidak berbicara soal kronologi penggerebekan, tapi fokus saya adalah jagonya sang marketer narkoba menggaet pasar papan atas. Bagaimana sih kok bisa ? 

Kembali lagi kita membahas rahasia marketer sukses :

1. Kemampuan yang tidak boleh tidak dimiliki para marketer adalah memahami peluang / kebutuhan / keinginan pasar. Jeli melihat peluang adalah syarat mutlak marketer. Para marketer narkoba (yang kemudian saya singkat MN) adalah ahli dibidangnya. Pasar artis adalah pasar yang dinamis dengan gaya hidup dunia gemerlap, beban kerja ekstrim sebagai seorang artis, sehingga dengan kondisi seperti itu, psikis pasar ini sangat gampang untuk goyah dan biasanya membutuhkan suatu pelarian. Pelarian itulah oleh para MN merekayasa pasar ini untuk menaikkan omset produk narkoba. 

2. Teknik promosi yang below the line ala MN cukup memiliki proses. Di mulai dari pendekatan awal lewat mengikuti gaya hidup pasar ini, kemudian mempenetrasi pasar lewat promosi lewat mouth of marketing dibumbui dengan teknik komunikasi persuasif. Logikanya, karena produk yang dipasarkan adalah barang sangat terlarang, maka tentu tidak mungkin menggunakan promosi terang-terangan misal lewat brosur, billboard dan bahan promo eksplisit lainnya (wong edan kalau ada MN yang buat promosi terang-terangan) 

3. Membangun jaringan distribusi yang kuat dan tanpa diketahui oleh siapapun untuk memasok narkoba adalah kunci sukses bisnis ini. Konsumen narkoba adalah over demand mind. Artinya dengan kondisi apapun, konsumen akan "sangat memaksakan diri" untuk memenuhi kebutuhannya dengan barang haram itu, maka perlu jaringan distribusi yang sangat kuat dan diam-diam (stealth) 

Ke-3 hal sederhana di atas adalah keseharian para marketer produk apapun itu. Biar bagaimanapun, selama ada pasar, ada manusia yang lain memanfaatkan peluang pasar, selama itu pula lah bisnis berjalan dan para marketer yang menjadikan produk yang dihasilkan sampai ke tahap penikmatan produkoleh konsumen. 

Nah, dengan kasus ini, kebetulan juga saya sangat menjauhi barang haram narkoba, maka strategi untuk mematikan bisnis ini adalah menyerang pasar atau mematikan produsen narkoba itu sendiri. Propaganda anti narkoba tidaklah cukup seperti yang sering kita lihat melalui plang jalan anti narkoba dan mass media.

Jikalau bisa, justru dengan peluang pasar seperti ini, mungkin berbagai bisnis yang sifatnya jasa untuk menampung "pelarian" para artis ini seperti bisnis outbound, jasa terapi pijat, atau jasa dekat dengan Tuhan melalui ustad, pendeta dan para pemuka agama juga bakal laku melihat behaviour pasar artis seperti ini adalah mereka yang tak taat lagi dengan Tuhannya kali ya ? 

Makanya, bisnis tandingan narkoba yang berperan sebagai "good" juga harus gencar melakukan kegiatan marketing layaknya para MN dong :-)

Note:
Tulisan ini hanyalah opini marketing semata. Penulis mendukung 100% gerakan anti narkoba selamatkan bangsa Indonesia dari kehancuran.









Read More

Sunday, June 10, 2012

Sisa Kenangan Itu Bernama PT ARUN Blang Lancang



...SISA liuk lidah api di cerobong “train,” kilang, gas alam cair Blang Lancang, Lhokseumawe, Aceh Utara, itu tak lagi menyiramkan benderang cahaya di pucuk langit Rancung, Batu Phat dan Paloh Lada. Sejak dua tahun lalu, lima dari enam pucuk api itu, telah memaklumatkan hari kematiannya. Dan telah raib pula tari kegelian dari kelebat liar jelaga cahaya, yang tiap kali angin laut mengibas ujung lidahnya, Blang Lancang bermandikan sejuta kerlap kerlip bagaikan di sebuah negeri kunang-kunang.

Benderang Blang Lancang adalah benderang negeri di tanah bertuah. Benderang yang selalu meleleh di ingatan Azhari, pensiunan karyawan pabrik gas itu, ketika mengingat kembali jejak tetirahnya, tigapuluh tahun lalu, pada saat meniti karir di PT. Arun NGL dan menutup masa tugasnya yang panjang itu, enam tahun lalu, sebagai “section head,” kepala seksi.

Blang Lancang dengan liuk lidah apinya yang mempesona itu, seperti dikatakan Azhari dengan suara tercekat, ketika membuka hikayat kenangannya kepada kami disebuah sudut Cunda, adalah berlaganya kontroversi simbol status negeri di awan itu. Negeri yang dikutuk dan disanjung anak Rancung, Paloh Lada dan Batuphat karena tak pernah bisa menggapainya.

Negeri yang dikatakan Azhari selalu mengundang rindu dan makian yang saking menggemaskannya sering mengambuhkan penyakit “home sick”nya hingga berbinar keubun-ubun.

Penyakit “home sick” yang mengelupaskan sekat lupa “vertigo”nya untuk kemudian, tertatih-tatih mengembalikan detail ingatannya dalam “buku” kenangan. Dan salah satu isi jalan kenangan yang paling berkesan itu, yang ia ingat secara sempurna, ketika harus memulai ritual “shift” tiga di ujung penggalan malam dan selalu ia awali dengan sepenggal doa pembuka.

Doa tengadah ke lenggok api di langit Blang Lancang yang banjar enam lidahnya bergerak secara simetris. Lidah api di pucuk cerobong asap yang mengaum bersama enam turbin pembangkit berdaya 120 megawat yang menenggelamkan bait pendek doa tengadahnya.

“Tengadah,” yang ia katakan berulang kali dengan kalimat puitis, “sebagai rukun pembuka kerja.” Rukun yang menyertai doa langitnya ketika membasuh pucuk api Blang Lancang dengan syahdu. Pucuk api yang meliukkan gerak cepat berkelok yang bagaikan langkah memutar tarian seudati milik Syech Lah Geunta maupun Syeh Rasyid. Liuk ketika angin laut menggelitik yang terkadang, membuat ujung apinya rebah dan menjulurkan jejak cahaya hingga jauh ke Paloh Lada dan Batu Phat, dua desa tetangganya.

Blang Lancang, kini, ketika kami “mudik,” awal pekan lalu, hanya menyisakan satu, dari enam, lidah api. Lidah api yang meliuk lamban, bagaikan penari di usia senja yang merentang gerak tertatih-tatih, di tengah auman kilang gaek yang meringis ketika diberitahu akan menerima “eska” pensiun dua tahun lagi.

Kilang uzur yang ketika kami datang sedang merintih dan menjalarkan auman bersuara parau dan tertatih-tatih untuk menyelesaikan masakan gas alam cair untuk memenuhi janji kontrak pengapalan ke Busan, Korea Selatan.

***


Ya, itulah sejumput kisah sisa kilang tua generasi pertama. Dan itu pula sisa peninggalan kilang yang ketika dibangun tahun 1976 dicatatkan sebagai yang paling moderen hasil temuan “revolusioner” teknologi minyak dan gas. Teknologi kilang yang dibangun dengan rekayasa konstruksi oleh perusahaan ternama dunia “Bechtel,” dan disanjung, kala itu, sebagai terobosan diversifikasi energi untuk memadatkan gas alam guna memisahkan unsur “condensate,” sejenis minyak lainnya, yang pengapalannya di ekspor ke Selandia Baru, serta elpiji, yang dijual ke pasar domestik, sebagai produk ikutannya.

Untuk mengingat tonggak sejarah penemuan diversifikasi bahan bakar fosil ini menjadi produk gas alam cair, Blang Lancang tidak hanya dikukuhkan sebagai “pabrik gas terbesar di dunia,” mengalahkan kilang gas serupa di Alzajair, tetapi juga menerima puja dan puji sebagai kilang penghasil gas paling bersih emisi karbonnya.

Itulah sepotong cerita masa lalu kilang yang dibangun dengan komposisi kepemilikan saham antara PT. Pertamina, pemegang kontrak karya (55 persen), Mobil Oil, kontraktor sekaligus operator ladang gas (kini, setelah di akusisi, menjadi Exxon Mobil (30 persen) dan JILCO, mewakili pembeli Jepang dan Korea Selatan (15 persen).

Dan itu pula yang membawa kenangan panjang bagi “euforia” teknologi ketika gas alam cair bisa dipadatkan untuk kemudian dikapalkan dengan tanker khusus dan di ekspor ke terminal Osaka maupun Kobe di Jepang atau Busan di Korea Selatan untuk kemudian disalurkan sebagai energi ke perusahaan pembangkit listrik negara tersebut.

Temuan teknologi gas alam cair ini pula yang mendorong pemerintah membangun dua pabrik pupuk di desa tetangga Blang Lancang, Kruenggeukeuh. PT Pupuk Iskandarmuda dan PT Pupuk Asean Aceh Fertilizer serta sebuah pabrik kertas PT. Kertas Kraft Aceh.

Kita tidak hanya mencatat temuan tercanggih dari produk minyak dan gas bumi, kala itu, yang mengubah Blang Lancang maupun Kruenggeukeuh sebagai kawasan seperti negeri antah berantah untuk kemudian di “syahadat”kan sebagai kawasan bernama zona industri.

Tetapi juga, Blang Lancang, mengalami transformasi kultural yang dahsyat dengan masyarakat plural yang mengedapankan etos kerja dan mengabaikan “domestic social cultural.” Blang Lancang mengalami penyakit “megalomania” yang menjadikannya gugup dari hembusan napas budaya “syariat.” Blang Lancang mengalami “geger budaya” dan tercampak ke dalam barisan “zona western” yang rikuh dan mengingatkan kita kepada kehidupan di ladang dan kilang di Texas sana dengan kultur yang acuh.

Blang Lancang, Batu Phat ataupun Rancung, ketika itu memang sebuah zona “western.” Zona orang dengan “style” celana “jeans,” sepatu “booth,” dan “helm” putih bertuliskan “bechtel” ataupun “mobil” dan bercas-cis- cus “England Americo” sembari menggasak “steak” dan “burger” di dapur “Indocater,” yang kemudian menularkan gayanya bak penyakit “sampar” ke masyarakat di kampung-kampung marjinal di seputar pabrik.

***

Blang Lancang, kini, ketika kami datang bertandang, awal pekan lalu, sedang menjalani hidup senja, di usia tigapuluh tujuh tahun. Kilang uzur yang mengenang masa kejayaannya ketika mencatatkan puncak produksinya dengan mengapalkan sebanyak 224 gas alam cair ke Kobe, Osaka dan Busan.

Blang Lancang, kini, adalah sebuah pabrik gas masa lalu.

Dan ketika kami singgah di sana, di sebuah malam temaram, di penanggalan awal Januari lalu, gerimis sedang membasuh kawasan itu. Dari arah Batu Phat, ketika kami menengadah ke langit timurnya, perasaan getir menyengat di selangkang memori. Perasaan getir yang datang menggelitik kepiluan hati kami kala menyaksikan cahaya lidah apinya meliuk lunglai dan sesekali berkelebat dipeluk angin timur.

Lidah api yang menari sendirian tanpa ditemani lagi lima cerobong asap tetangganya yang sudah lama mampus. Sisa lidah api yang hanya bersungut ketika mengibaskan jilatan cahaya “peusijuek”nya ke langit kelam.

Malam itu, di sebuah kedai kopi di pasar Batu Phat, kami tak melihat lagi gairah Blang Lancang dengan kesibukan pekerja “shift” dua dan tiganya berjalan dipelukan malam dan melarikan truk serta pikap berlabel PTA ke arah Rancung. Juga telah raib pula cahaya benderang yang selama puluhan tahun membasuh langit Paloh Lada, Batu Phat maupun Blang Lancang sendiri. Semuanya telah tamat. Telah usai.

Dan ketika seruputan kopi terakhir kami terasa pahit, seorang kawan mendadak berceloteh dengan bibir bergetar menahan gumam.“Sudah usai lima pemakaman di Blang Lancang tanpa melantunkan doa samadiah berjamaah ........”

Kawan itu, Rusdi, anak Paloh Lada, yang dulu pernah menjadi “orang penting” dan mendapat jatah sebagai “stringer” mengurus community development di sana. Ia tak mampu melanjutkan kalimatnya.

Kerongkongannya tercekat ketika bianglala kenangan Blang Lancang singgah dalam ingatannya. BlangLancang tahun delapanpuluhan. Blang Lancang yang bagaikan “enklaf” di sebuah negeri siluman, negeri antah berantah, bertabur cahaya dan tak pernah digenggam sebagai milik anak “nanggroe” sebagai bagian tanah “ware’eh” pusaka indatunya.

“Dulu kami hidup bagaikan di Texas. Semburan cahaya benderang sepanjang tahun dan kesibukan pekerja pabrik hilir mudik dengan mobil bertulis PTA sebagai simbol status sosial para pekerja. Dan kami sendiri tidak pernah sebagai tuan di sini”

Rusli pantas mengenang masa keemasan pabrik gas alam cair bernama PT. Arun NGL itu dengan dada sesak. Ketika pabrik gas yang usianya tersisa dua tahun lagi. Pabrik gas yang sering diocehkan entah milik siapa di tanah milik kakek moyangnya dan limpahan dollarnya berserak tanpa pernah memberikan kesejahteraan anak Blang Lancang atau Batu Phat yang terusir ke pucuk Mbang sebagai kasta “paria” atas nama relokasi.

Kasta “paria” yang di “rodi” siklus kehidupannya dari nelayan dan petambak “neuheun” menjadi petani sayur dengan penyuluh yang didatangkan dari negeri “bule” untuk kemudian bubar tanpa pernah mendapat ujung cerita yang “happy ending.”

Dan anak-anak Blang Lancang, Rancung maupun Batu Phat, kini, usai “fiesta” gas alam itu setelah perut buminya kempis, melata menjadi penganggur, dan bagian lainnya terlunta-lunta mengikis lumut “rasueki” di seputar tanah bertuah milik “ayah-moyangnya.” Tanah bertuah yang ketika “pipa line”nya menyisakan tetesan terakhir mendapat jatah pengembalian bagi hasil sebesar 70 persen.

“Apalah arti pembagian tujuh puluh persen distribusi pendapatan setelah jumlah pengapalannya 22 kali setahun. Bukan 224 pengapalan. Inilah zaman, ketika tipu Aceh tidak lagi menjadi milik anak negeri,” ujar seoeang pengamat di Banda Aceh. Tipu menipu yang memanipulasi angka “cost recovery” yang arus kasnya pembiayaannya, “operational cost” berada diselangkah celana bule Amerika.

Itulah penggalan kisah anak Blang Lancang dan Rancung maupun Batu Phat yang awalnya mendapat ganti rugi pembebasan tanah dengan ikatan duit berlimpah menyembul di kantong dan membeli “Honda CB” sampai ke Medan.

Anak Blang Lancang yang kemudiannya, setelah hamburan duitnya berceceran membeli kemiskinan, kembali menjadi “buruh” dengan panggilan keren “bang bechtel” dan di hari-hari kami bertandang masih terbata-bata menceritakan ceceran kisah “sukses” duit ganti rugi yang dibelanjakan kakek dan ayahnya untuk membasuh daki kemiskinan. Sabun daki kemiskinan Honda CB, Kijang pikap kotak sabun dan rumah di Pulaubrayan serta mencampakkan keranjang “meuge” berbau anyir “engkot muloh dan udang wat.

Itulah sebuah ironi pengajaran masa lalu yang yang tak pernah kembali untuk kemudian ingin ditebus anak cucu mereka dengan menuntut balik tanah ulayat milik “indatu”nya dengan berkemah di jalur pipa.

***

2014, Blang Lancang, kilang yang pernah menyandang predikat “Terbesar di Dunia” itu akan tutup buku bersamaan dengan berakhirnya kontrak ekspor gasnya dengan Korea Selatan. Sisa kontrak yang tersisa sekitar 40-an pengapalan akan dipenuhi sepanjang dua tahun ke depan.

Untuk tahun ini, menurut manajemen PT Arun, ekspor gas ke Busan, Korsel tidak akan lebih dari 22 kapal, yang berarti sama dengan ekspor tahun 2011. Sedangkan ekspor gas ke Kobe dan Osaka telah tamat tahun 2010 lalu yang sekaligus pula memensiunkan lima train Blang Lancang.

Blang Lancang, usai “fiesta” panjang dollar berbau amis yang mengalir ke pundi-pundi APBN selama tiga dekade lebih, tahun 2014, menyisakan baris pertanyaan yang belum seluruhnya terjawab tuntas.

Pertanyaan menggelitik tentang pepatah plesetan, “habis gas besi dibangkaikan.” Pertanyaan yang juga membangkitkan koreng di luka tak berparut sepanjang tanah bekas “neuhun” milik anak nanggroe yang ditendang domisilinya ke bukit Mbang.

Akan jadi rongsokankah kilang, turbin gas pembangkit 120 megawat, pelabuhan, dan tanki serta pipa-pipa gas milik Blang Lancang itu? Akankah raib nilai buku kekayaan, hasil audit internal Pertamina, Rp. 6,5 triliun itu dari tanah Rancung, Batu Phat dan Blang Lancang?

Itulah pertanyaan paling mengusik sepanjang hari-hari ditahun terakhir kehidupan kilang gas itu. Pertanyaan akan dicampakkan kemana onggokan “besi tua” yang berkahnya untuk negeri ini telah dilumat secara bancakan antara pemodal, spekulan dan pemerintah pusat yang mengatasnamakan kepentingan fiskal.

Kepentingan pembangunan yang wujudnya tak pernah dinikmati anak-anak Blang Lancang, Batu Phat, Paloh Lada hingga melingkar, nun jauh ke sana, ke Syamtalira Aron maupun Syamtalira Bayu yang api “point A” maupun “point B”nya telah padam. Dan kantor Exxon Mobil telah dialih pinjamkan ke Pemda Aceh Utara atas kemura-hatian PT. Pertamina.

Di ujung tahun kemarin terdengar skenario baru tentang nasib akhir Blang Lancang. Skenario untuk memungsikan sebagai terminal gas yang bahan bakunya didatangkan dari Bontang dan Tangguh. Terminal berdurasi investasi 175 juta dollar yang akan mengalirkan gasnya melalui pipa sepanjang 250 kilometer ke Medan dan akan menghabiskan belanja mendekati angka 300 juta dollar.

Terminal yang kelak akan membangkitkan gairah birahi PT PIM mengejar kapasitas penuh produksi. Terminal yang juga menunda pembangkaian PT AAF menjadi potongan besi tua. Dan juga menghidupkan harapan kehidupan bagi PT KKA menjalani ritual sebagai sebuah pabrik kraft peling prestiseus.

Kita belum tak tahu secara persis apakah janji mengubah Blang Lancang menjadi terminal gas ini mimpi halusinasi atau ekstase “cet langet” model baru. Sebab, sebelum godaan menjadikan Blang Lancang sebagai terminal gas, sudah terbit sebuah Perpres tentang penunjukan Belawan sebagai terminal suplai untuk kawasan Sumatera bagian Utara.

Kita mengingatkan dengan keras, kepada siapapun dia, jangan paksa lagi Aceh mencabut pedang atas nama “perjuangan” untuk menegakkan harga dirinya sebagai “bangsa” bermartabat untuk merebut muntahan janji keadilan. Jangan lagi bangun jalan tak berujung yang ketika menggapainya harus di aplaus dengan sorak-sorai perjuangan dan harus direbut dengan salakan bedil dan banyak jirat yang kuburnya tak bernisan.

Blang Lancang ketika kami memunggunginya di pekan kedua Januari lalu, usai menyantap nasih gurih Batu Phat, menunduk kalem di ujung dhuha yang langit bewarna kelabu, “reudok.” Awan hitam yang berlari digelitik taifun kecil. Hujan, entah tumpah atau tidak, kami tidak lagi pernah tahu. Tapi, yang kami tahu, setelah beringsut dari tanah penuh janji itu, proposal terminal Blang Lancang masih bergantung di awan hitam langit negeri “perjuangan” ini. -Atjeh post.



Read More

About Me

Designed ByBlogger Templates-Blogger Tips